Welcome to our blog, hope always give you many benefit in your life** tugas kita adalah untuk berbagi dan belajar


Islam sebagai salah  satu agama yang di peluk oleh mayoritas rakyat Indonesia dan menjadi Negara dengan penduduk islam terbesar di dunia telah mengalami proses perkembangan islam yang sangat panjang. Diketahui bahwa sebelum islam datang ke Indonesia, sudah ada beberapa kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia diataranya agama budha, hindu, animisme dan dinamisme serta berbagai kepercayaan pada nenek moyang lainnya, islam berkembang pesat di Indonesia karena penyebarannya menggunkan dasar rahmatallilalamin sehiingga mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Budaya dan tradisi islam dengan konsep rahmatallilalamin serta sikap toleran / tasamuh terhadap keberagaman bangsa Indonesia harus diterima sebagai sebuah realita nyata sebagai masyarakat Indonesia yaitu untuk menjaga persatuan NKRI.
Munculnya gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia yang mengatasnamakan islam, menjadikan rakyat Indonesia yang multicultural dan mayoritasnya memeluk agama islam menjadi tidak nyaman dan merasa was-was terhadap gerakan radikalisme dan terorisme, padahal paham radikalisme dan terorisme itu sangat bertentangan dengan konsep islam yang rahmatallilalamin dan toleran, namun bagaimanapun pihak-pihak yang melakukan gerakan radikalisme dan terorisme itu  bernnggapan telah melakukan  jihad di jalan Allah, yang sebenarnya bertentangan dengan konsep jihad itu sendiri.
Apa itu radikalisme dan terorisme
}  Radikalisme adalah sebuah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial atau politik dengan cara kekerasan atau drastis.
}  Terorisme adalah suatu penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usah mencapai tujuan tertentu (terutama tujuan politik).

Bagaimana sikap kita terhadap radikalisme dan terorisme?
Tugas kita sebagai kholifah di bumi sudah kita ketahui bersama, bahwa menjaga kelestarian bumi ini adalah kewajiban kita bersama. Menjaga bumi bukanlah kita hanya diwajibkan menjaga alamnya saja, tetapi lengkap beserta seluruh isinya. Perkembangan islam sangatlah utama, oleh karenanyalah kita harus benar-benar teliti dan cerdas dalam memilih langkah untuk jihad fi sabilillah yang sebenarnya.
Didalam islam, tidak ada satu dalih pun yang memerintahkan umatnya untuk melkukan kekerasan. Islam itu datang dengan rahmatan lil ‘alamiin. Menjadikan Indonesia sebagai Negara islam sebenarnya jika kita amati bersama itu hanyalah impian semu semata. Berdirinya Negara Indonesia yang merdeka ini dapat tercapai tidaklah dari satu golongan saja, terbentuknya Negara Indonesia ini adalah hasil dari kerjasama antar umat. Dan Negara Indonesia yang berasaskan pancasila ini sebenarnya sudah berasaskan pada Syari’at Islam itu sendiri. Poin-poin dalam pancasila ini samasekali tidak ada yang menyimpang dari ajaran Islam.

Perlu kita pahami makna sebenarnya dari rohmatan lill ‘alamin itu sendiri ialah rahmat untuk seluruh alam. Nilai rohmatna lil ‘alamin mengisyartkan bahwa umat islam dimanapun berada selalu menebarkan cinta kasih dalam tingkah dan lakunya. Tentu tidak hanya apda ideologi atau agamanya saja, tetapi pada kemanusiaannya juga. Oleh karena itu salah apabila ada pemahaman bahwa islam mengajarkan kekerasan dan pengrusakan seperti yang dilakukan oleh teroris dengan mengatasnamakan islam. Umat islam bukan kelompok manusia yang tujuannya adalah untuk hidup dengan menghalalkan segala cara dan menempuh jalan hidup tanpa arah.

Read More
Diposting oleh Ranum on Sabtu, 05 April 2014
0 komentar
categories: | edit post



GERUND
Gerund merupakan sebuah bentuk –ing pada sebuah verb yang ‘dibendakan’(digunakan sebagai benda). Gerund ini penggunaannya seperti benda (noun). Fungsinya adalah sebagai berikut:
  1. Sebagai subjek. Eg : Writing is very much good.
  2. Sebagai objek yang mengikuti kata kerja. Eg: I like writing very much
  3. Sebagai objek yang mengikuti kata depan. Eg : I’m interested in writing.
  4. Mengikuti kata go untuk verb-verb tertentu. Eg : Chris went swimming the day before yesterday.
  5. Mengikuti expressions. Eg : She is lying on the bed watching TV.
  6. Mengikuti prepositional object, seperti : to be used to, to be accustomed to, object to, look forward to, to take to, confess to. Eg : I object to doing that, Emile confess to stealing that cheese.
  7. Membentuk noun phrase (frasa berupa kata benda). Eg : reading book.
INFINITIVES
Infinitives adalah bentuk “to” yang ditambahkan pada kata kerja.
Fungsinya adalah sebagai berikut:
  1. Sebagai subjek. Eg : To sing is hard for a person like me.
  2. Menerangkan tujuan. Eg : Simon comes here just to see you.
  3. Untuk kalimat passive. Eg : I  was told to be mature.
  4. Setelah objek pelaku.  Eg : Brian asked me to listen to him closely.
PERBEDAAN GERUND DAN INFINITIVE
Mengikuti verb tertentu “yang berbeda”
  • Verbs yang diikuti gerund: avoid, admit, appreciate, anticipate, continue, deny, detest, delay, enjoy, excuse, finish, forgive, fancy, keep, mind, postpone, prevent, risk, resist.
  • Sedangkan, verb yang diikuti infinitive : ask, allow, advice, beg, decide, expect, hope, intend, invite, instruct, learn, mean, need, purpose, promise, permit, want, warn,  would like, tell, teach, urge.

Dalam hal Prepositional Object: (To be) used to
  • Bila dalam infinitive, misalnya : I used to cry every night. Maka itu kebiasaan lama, si “I” sudah tidak menangis tiap malam lagi.
  • Sedangkan dalam gerund, misalnya : I’m used to crying every night. Maka itukebiasaan sampai sekarang, si “I” sampai sekarang masih suka menangis tiap malam.
Perhatikan bahwa untuk gerund kita pakai to be, sedangkan untuk infinitive tidak.
Perbedaan Makna
Ada kata kerja yang bisa diikuti ing (gerund) atau diawali to (infinitive) yang tidak berbeda makna (jadi bisa bebas kita gunakan). Yaitu : advise, begin, continue, dislike, hate, intend, like, love, prefer, propose, start.
Namun ada kata yang bila digunakan dalam bentuk gerund akan berbeda makna dengan yang dalam bentuk infinitive, yaitu forget, remember, stop, regret. Contoh :
  • I forget cooking a bowl soup for you (si “I” lupa kalau dia sudah memasak sup untuk “you”)
  • I forget to cook a bowl soup for you (si “I” lupa, dan belum memasak sup untuk “you”)
  • The chef stops cooking (si “chef” berhenti masak)
  • The chef stops to cook (si “chef” berhenti untuk memasak)

Read More
Diposting oleh Ranum on

       

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kerena sobat tlah mengunjungi blog ini,, widih formal bgt kata-katanya hehe... disini saya akan berbagi tulisan mengenai keKimiaan , yaitu lebih tepatnya mengenai Dasar kimia analitik,. para sobat sekalian jangan beranggapan bahwa mempelajari kimia itu sulit,, sebenarnya menyenangkan low,, klu kita tau cara mainnya pastynya :-) yaudah langsung ajja,
       dalam mempelajari Kimia pasty tidak akan terlepas dari yang namanya Analisis yang pada intinya  merupakan metode unttuk mengetahui kandungan sebuah sampel dalam kimia dan juga jumlah sampel itu sendiri.
Jenis-Jenis Analisis:

  •  Analisis Klasik :
 Analisis klasik berdasarkan pada reaksi kimia dengan stoikiometri yang telah diketahui dengan pasti.
Cara ini disebut juga cara absolut karena penentuan suatu komponen di dalam suatu sampel diperhitungkan berdasarkan perhitungan kimia pada reaksi yang digunakan.
Contoh analisis klasik yaitu Volumetri dan gravimetri.Pada volumetri, besaran volume zat-zat yang bereaksi merupakan besaran yang diukur, sedangkan Pada gravimetri, massa dari zat-zat merupakan besaran yang diukur
  • Analisis Instrumental :
Analisis instrumental berdasarkan sifat fisiko-kimia zat untuk keperluan analisisnya
Misalnya interaksi radiasi elektromagnetik dengan zat menimbulkan fenomena absorpsi, emisi, hamburan yang kemudian dimanfaatkan untuk teknik analisis spektroskopi. 
Dalam analisisnya teknik instrumental ini menggunakan alat-alat yang modern sehingga disebut juga dengan analisis modern.
Contoh Analisis intrumental adalah analisis menggunakan IR, GC, HPLC, IR

teusanya nyambung bsok lgi ya,,, hehe

Read More
Diposting oleh Ranum on
0 komentar
categories: | edit post

Hai guys,,, udah lama banget ni nggak posting di blog tercinta ini, kebetulan hari ini ada mata kuliah kimia dasar 1 tentang titrasi asam basa, pengen berbagi sedikit mengenai materi tersebut,. semoga bermanfaat ya guys.. loving you always..

Larutan didefinisikan sebagai zat homogen yang merupakan campuran dari dua komponen atau lebih, yaitu antara zat terlarut dan zat pelarut. Senyawa dalam jumlah yang lebih besar disebut solvent (zat pelarut) dan senyawa yang berada dalam jumlah kecil disebut solute (zat terlarut).  Jumlah zat terlarut dalam pelarut sangat bervariasi itulah sebabnya perlu mengetahui susunan atau konsentrasi yang tepat dalam larutan bila harus dilakukan suatu perhitungan pada reaksi kimia.        
Konsenstrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa cara antara lain :
1.     Molaritas dari solute adalah jumlah mol solute per liter daei larutan dan biasanya dinyatakan dengan huruf besar M.
2.     Molalitas daei solute adalah jumlah mol solute per 1 kg.
3.     % berat adalah menyatakan banyaknya gram zat terlarut dalam 100 gram larutan.
4.     % volume menyatakan banyaknya ml zat terlarut dalam 100 ml larutan.
5.     ppm menyatakan banyaknya mg zat terlarut dalam 1 kg atau 1 liter larutan.
6.     Fraksi mol adalah perbandingan dari jumlah suatu komponen dengan jumlah total mol dalam larutan.
7.     Normalitas dari suatu solute adalah jumlah gram ekuivalen solute per liter larutan.
Untuk mengetahui perubahan warna dipakai suatu indikator. Indokator adalah zat yang warnanya berbeda dalam lingkungan yang sifatnya berlainan. Pada titrasi ini digunakan indikator asam basa. Indikator asam basa adalah senyawa organik golongan pewarna yang mampu memberikan perubahan warna apabila pH dari suatu larutan berubah. Ada beberapa indikator asam basa diantaranya adalah :
  1. Kertas lakmus.
  2. Larutan metil orange.
  3. Phenophtalein.
Larutan adalah campuran homogen antara dua atau lebih senyawa yang terdispensi sebagai molekul, atom atau ion dengan komposisi yang bervariasi atau biasa dikatakan campuran homogen antara zat terlarut dan pelarut.
Titrasi asam basa adalah titrasi yang melibatkan reaksi netralisasi dimana asam bereaksi dengan sejumlah ekivalen basa. Kurva titrasi dibuat dengan memplot pH larutan sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan. Titran selalu merupakan asam atau basa kuat, sedangkan analit bisa berubah basa atau asam kuat ataupun basa atau asam lemah 
Indikator adalah suatu asam atau basa, maka jumlah yang harus ditambahkan hendaknya sesedikit mungkin, sedemikian rupa sehingga tidak mempengaruhi pH dan titran yang menyebabkan terjadinya perubahan sedikit. Dengan demikian indikator biasanya dibuat dengan konsentrasi beberapa persen saja dan ditambahkan sekitar 2-3 tetes ke dalam larutan yang titrasi. 
Campuran asam basa dapat dititrasi secara bertahap bila ada perbedaan yang mencolok. Di sini harus ada perbedaan Ka sedikitnya 104. Bila campuran dua asam kuat dititrasi bersamaan, maka tidak akan ada perbedaan dengan titrasi asam kuat tunggal, sehingga hanya satu titik ekivalen. Hal yang sama juga terjadi untuk campuran asam lemah jika harga kedua Ka – nya tidak jauh berbeda. Titrasi dalam pelarut bukan air asam dan basa dengan tetapan ionisasi kurang dari 10-7 dan 10-8 terlalu lemah untuk dititrasi secara akurat dalam larutan berair. Pelarut inert atau aprotik dan pelarut amfiprotik. Dengan pelarut amfiprotik, asam atau basa akan disesuaikan dengan kekuatan kation atau anion, dimana asam dan basa tersebut akan mengalami ionisasi sempurna. 

Read More
Diposting oleh Ranum on Selasa, 18 Maret 2014
1 komentar
categories: | edit post


from http://zahlulrizka.blogspot.com/

I.                  PENDAHULUAN
Islam merupakan agama yang terakhir sebagai penutup semua agama yang telah ada, islam merupakan agama rahmatal lil a’lamin untuk semua umat.Islam itu dibawakan oleh nabi Muhammad SAW yang mendapat wahyu dari Allah. Untuk mengetahui islam lebih mendalam mak muncullah ilmu yang dinamakan Studi Islam akan tetapi Studi Islam itu sendiri merupakan bidang kajian yang cukup lama. Ia telah ada bersama dengan adanya agama islam maka dari itu Studi Islam menimbulkan berbagai permasalahn yang umum diantaranya : apa penertian Studi Islam, apa ruang lingkup, atau objek Studi Islam, apa tujuan Studi Islam, bagaimana pendekatan dan metodologi dalam Studi Islam.
Seiring dinamika dan perkembangan zaman, kesempatan untuk mempelajari Studi Islam dapat melalui segala hal, berkaitan dengan persoalan tentang mempelajari Studi Islam, islam memberikan kesempatan secara luas kepada manusia untuk menggunakan akal pikirannya secara maksimal untuk mempelajarinya, namun jangan sampai penggunaannya melampaui batas dan keluar dari rambu-rambu ajaran Allah SWT.
 Dan didalam makalah ini akan membahas permasalahan-permasalahan itu semua secara lebih umum.
II.               PERMASALAHAN
A.    Apa pengertian  Studi Islam ?
B.     Apa ruang lingkup Studi Islam ?
C.     Apa tujuan Studi Islam ?
D.    Bagaimana Pendekatan dan Metodologi Studi Islam ?
III.           PEMBAHASAN
A.    Pengertian Studi Islam
Istilah Studi Islam dalam bahasa Inggris adalah Islamic Studies, dan dalam bahasa Arab adalah Dirasat al-Islamiyah. Ditinjau dari sisi pengertian, Studi Islam secra sederhana dimaknai sebagai “kajian islam”. Pengrtian Studi Islam sebagai kajian islam sesungguhnya memiliki cakupan makna dan penertian yang luas.Hal ini wajar adanya sebab sebuah istilah akan memiliki makna tergantung kepada mereka yang menafsirkannya.Karena penafsir memiliki latar belakang yang berbeda satu sama lainnya, baik latar belakang studi, bidang keilmuan, pengalaman, maupun berbagai perbedaan lainnya, maka rumusan dan pemaknaan yang dihasilkannyapun juga akan berbeda.
Selain itu, kata Studi Islam sendiri merupakan gabungan dari dua kata, yaitu kata Studi dan kata Islam. Kata studi memiliki berbagai pengertian.Rumusan Lester Crow dan Alice Crow menyebutkan bahwa Studi adalah kegiatan yang secara sengaja diusahakan dengan maksud untuk memperoleh keterangan, mencapai pemahaman yang lebih besar, atau meningkatkan suatu ketrampilan.
Sementara kata Islam sendiri memiliki arti dan makna yang jauh lebih kompleks. Kata Islam berasal dari kata Aslama yang bararti patuh dan berserah diri. Kata ini berakar pada kata silm yang berarti selamat, sejahtera, dan damai.
Adapun pengertian Islam secara terminologis sebagaimana yang dirumuskan para ahli ulama dan cendikiawan bersifat sangat beragam tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Salah satu rumusan definisi Islam adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada nabi Muhammad Saw.[1]
Sedangkan Studi Islam dibarat dikenal dengan istilah Islamic Studies, secara sederhana dapat dikatakan sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama islam. Usaha mempelajari agama Islam tersebut dalam kenyataannya bukan hanya dilaksanakan oleh kalangan umat islam saja, melainkan juga dilaksanakan oleh orang-orang diluar kalangan umat islam.[2]
Studi keislaman dikalangn umat islam sendirinya tentunya sangat berbeda tujuan dan motivasinya dengan yang dilakukan oleh orang-orang diluar kalangan umat islam. Dikalangan umat islam, studi keislaman bertujuan untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran-ajaran islam agar mereka dapat melaksanakan dan mengamalkannya dengan benar. Sedangkan diluar kalangna umat islam, studi keislaman bertujuan untuk mempelajari seluk-beluk agama dan praktik-praktik agama yang berlaku dikalangan umat islam, yang semata-mata sebagai ilmu pengetahuan. Namun sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang seluk-beluk agama dan praktik-praktik keagamaan islam tersebut bias dimanfaatkan atau digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu, baik yang bersifat positif maupun negative.
B.     Ruang lingkup Studi Islam
Menurut Muhammad Nur Hakim, tidak semua aspek agama khususnya islam dapat menjadi obyek studi. Dalam konteks Studi Islam, ada beberapa aspek tertentu dari islam yang dapat menjadi obyek studi, yaitu:
1.      Islam sebagai doktrin dari tuhan yang kebenarannnya bagi pemeluknya sudah final, dalam arti absolut, dan diterima secara apa adanya.
2.      Sebagai gejala budaya yang berarti seluruh apa yang menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan agama, termasuk pemahaman orang terhadap doktrin agamanya.
3.      Sebagai interaksi sosial yaitu realitas umat islam.
Sementara menurut Muhammmad Amin Abdullah terdapat tiga wilayah keilmuan agama islam yang dapat menjadi obyek studi islam:
1.      Wilayah praktek keyakianan dan pemahaman terhadap wahyu yang telah diinterpretasikan sedemikian rupa oleh para ulama, tokoh panutan masyarakat pada umumnya. Wilayah praktek ini umumnya tanpa melalui klarifikasi dan penjernihan teoritik keilmuan yang di pentingkan disisni adalah pengalaman.
2.         Wilayah tori-teori keilmuan yang dirancang dan disusun sistematika dan metodologinya oleh para ilmuan, para ahli, dan para ulama sesuai bidang kajiannya masing-masing. Apa yang ada pada wilayah ini sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah “teori-teori” keilmuan agama islam, baik secara deduktif dari nash-nash atau teks-teks wahyu , maupun secara induktif dari praktek-praktek keagamaan yang hidup dalam masyarakat era kenabian, sahabat, tabi’in maupun sepanjang sejarah perkembangan masyarakat muslim dimanapun mereka berada.
3.      Telaah teritis yang lebih popular disebut metadiscourse, terhadap sejarah perkembangan jatuh bangunnya teori-teori yang disusunoleh kalangan ilmuan dan ulama pada lapis kedua. Wilayah pada lapis ketiga yang kompleks dan sophisticated inilah yang sesungguhnya dibidangi oleh filsafat ilmu-ilmu keislaman.
Sedangkan menurut M.Atho’ Mudzhar menyatakan bahwa obyek kajian islam adalah substansi ajaran-ajaran islam, seperti kalam, fiqih dan tasawuf. Dalam aspek ini agama lebih bersifat penelitian budaya hal ini mengingat bahwa ilmu-ilmu keislaman semacam ini merupakan salah satu bentuk doktrin yang dirumuskan oleh penganutnya yang bersumber dari wahyu Allah melalui proses penawaran dan perenungan.[3]
C.     Tujuan Studi Islam
Studi Islam sebagai usaha untuk mempelajari secara mendalam tentang islam dan segala seluk beluk yang berhubungan dengan agama islam sudah barang tentu mempunyai tujuan yang jelas, yang sekaligus menunjukan kemana Studi Islam tersebut diarahkan. Dengan arah dan tujuan yang jelas itu, maka dengan sendirinya Studi Islam akan merupakan usaha sadar dan tersusun secara sistematis.
Adapun arah dan tujuan Studi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut :   
1.    Untuk mempelajari secara mendalam tentang apa sebenarnya (hakikat) agam islam itu, dan bagaimana posisi serta hubungannya dengan agama-agama lain dalam kehidupan budaya manusia.
Sehubungan dengan ini, Studi Islam dilaksanakan berdasarkan asumsi bahwa sebenarnya agama islam diturunkan oleh Allah adalah untuk membimbing dan mengarahkan serta menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan agama-agama dan budaya umat dimuka bumi.
2.     Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi ajaran agama islam yang asli, dan bagaimana penjabaran dan operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya peradaban islam sepanjang sejarahnya. Studi ini berasumsi bahwa agama islam adalah fitrah sehingga pokok-pokok isi ajaran agama islam tentunya sesuai dan cocok dengan fitrah manusia. Fitrah adalah potensi dasar, pembawaan yang ada, dan tercipta dalam proses pencipataan manusia.
3.    Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam  yang tetap abadi dan dinamis, dan bagaimana aktualisasinya sepanjang sejarahnya. Studi ini berdasarkan asumsi bahwa agama islam sebagai agama samawi terakhir membawa ajaran yang bersifat final dan mampu memecahkan masalah kehidupan manusia, menjawab tantangan dan tuntutannya sepanjang zaman.Dalam hal ini sumber dasar ajaran agama islam akan tetap actual dan fungsional terhadap permasalahan hidup dan tantangan serta tuntutan perkembangan zaman tersebut.
4.       Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran agama islam, dan bagaimana realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini. Asumsi dari studi ini adalah, islam yang meyakini mempunyai misi sebagai rahmah li al-‘alamin tentunya mempunyai prinsip dasar yang bersifat universal, dan mempunyai daya dan kemampuan untuk membimbing, mengarahkan dan mengendalikan factor-faktor potensial dari pertumbuhan dan perkembangan system budaya dan peradaban modern.[4]
D.    Pendekatan dan Metodologi Studi Islam
Untuk melakukan Studi Islam ada beberapa istilah yang perlu dipahami dengan baik. Pemahaman terhadap istilah-istilah ini akan memudahkan untuk memasuki bidang studi islam. Istilah-istilah tersebut adalah pendekatan, metode dan metodologi. [5]
Pendekatan adalah cara memperlakuakan sesuatu Sementara metode merupakan cara mengerjakan sesuatu . Sedangkan metodologi yaitu langkah-langkah praktis dan sistematis yang ada dalam ilmu-ilmu tertentu yang sudah tidak dipertanyakan lagi karena sudah bersifat aplikatif.
 Berikut akan diuraikan beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam studi islam:
1.         Pendekatan Historis
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu objek, latar belakang, dan pelaku peristiwa tersebut, sedangkan
Yang dimaksud pendekatan historis adalah meninjau suatu permasalahan dari sudut peninjauan sejarah, dan menjawab permasalahan, serta menganalisisnya dengan menggunakan metode analisis sejarah. Sejarah atau historis adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa atau kejadian masa lalu yang menyangkut kejadian atau keadaan sebenarnya. Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis kealam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam  idealis dengan di alam empiris dan historis.[6]
2.         Pendekatan Filosofis
Yang dimaksudkan pendekatan filosofis adalah melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan filsafat dan berusaha untuk menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan menggunakan metode analisis spektulatif. Pada dasarnya filsafat adalah berpikiran untuk memecahkan masalah atau pertanyaan dan menjawab suatu persoalan, namuk demikian tidak semua berpikir untuk memecahkan dan menjawab suatu permasalahan dapat disebut filsafat yang dimaksud filsafat disini adalah berpikir secara sistematis, radikal dan universal. Di samping itu,filsafat mempunyai bidang (objek yang dipikirkan) sendiri,yaitu bidang atau permasalahan yang bersifat filosofis yakni bidang yang terletak diantara dunia ketuhanan yang ghaib dengan dunia ilmu pengetahuan yang nyata. Dengan demikian filsafat yang menjembatani kesenjangan antara maslah-masalah yang bersifat keagamaan semata-mata dengan masalah yang bersifat ilmiah.
3.         Pendekatan Ilmiah
Yang dimaksud pendekatan ilmiah adalah meninjau dan menganalisis suatu permasalahan atau objek studi dengan menggunakan metode ilmiah pada umumnya. Diantara ciri pokok dari pendekatan ilmiah adalah terjaminnya objektifitas dan keterbukaan dalam studi. Objektifitas suatu studi akan terjamin jika kebenarannya bisa dibuktikan dan didukung oleh dat empiris, konkret, dan rasional. Sedangkan keterbukaan suatu studi terjadi jika kebenaran bisa dilacak oleh siapa saja. Disamping itu,pendekatan ilmiah selalu siap dan terbuka menerima kritik terhadap kesimpulan studinya.
4.    Pendekatan Doktriner
    Adapun pendekatan doktriner atau pendekatan studi islam secara konvensioanal merupakan pendekatan studi di kalangan umat islam yang berlangsung adalah bahwa agama islam sebagai objek studi diyakini sebagai sesuatu yang suci dan merupakan doktrin-doktrin yang berasal dari illahi yang mempunyai nilai (kebenaran) absolut, mutlak dan universal. Pendekatan doktriner juga berasumsi bahwa ajaran islam yang sebenarnya adalah ajaran islam yang berkembang pada masa salaf yang menimbulkan berbagai mazhab keagamaan,baik teologis maupun hukum-hukum atau fiqih,yang kemudian di anggap sebagai doktrin-doktrin yang tetap dan baku.[7]
5.      Pendekatan Normatif
Maksud pendekatan normative adalah studi islam yang memandang masalah dari sudut legal formal dan atau normatifnya. Maksud legal formal adalah hubungannya dengan halal dan haram, boleh atau tidak dan sejenisnya. Sementara normatif adalah seluruh ajaran yang terkandug dalam nash. Dengan demikian, pendekatan normatif mempunyai cakupan yang sangat luas. Sebab seluruh pendekatan yang digunakan oleh ahli ushul fiqih (usuliyin), ahli hukum islam (fuqoha), ahli tafsir (mufassirin), dan ahli hadist (muhadditsin) yang berusaha menggali aspek legal-formal dan ajaran islam dari sumbernya adalah ternasuk pendekatan normatif.[8]
Kelima pendekatan tersebut dimaksudkan bukanlah sebagai pendekatan-pendekatan yang dilaksanakan secara terpisah satu dengan yang lainnya, melainkan merupakan satu kesatuan sistem yang dalam pelaksanaannya secara serempak yang satu melengkapi lainnya (complement) atau merupakan system pendekatan system (systemic approach) .
Dalam hubungannya dengan Studi Islam, metodologi berarti membahas kajian-kajian seputar berbagai macam metode yang bisa digunakan dalam Studi Islam.
Adapun metode studi islam secara lebih rinci dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.      Metode Ilmu Pengetahuan
Metode ilmu peuju pengetahuan atau metode ilmiah yaitu cara yang harus dilalui oleh proses ilmu sehingga dapat mencapai kebenaran. Oleh karenanya maka dalam sains-sains spekulatif mengindikasikan sebagai jalan menuju proposisi-proposisi mengenai yang ada atau harus ada, sementara dalam sains-sains normative mengindikasikan sebagai jalan menuju norma-norma yang mengatur perbuatan atau pembuatan sesuatu.
2.      Metode Diakronis
Suatu metode mempelajari islam menonjolkan aspek sejarah. Metode ini memberi kemungkinan adanya studi komparasi tentang berbagai penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam islam, sehinggga umat islam memiliki pengetahuan yang relevan, hubungan sebab akibat dan kesatuan integral. Metode diakronis disebut juga metode sosiohistoris, yakni suatu metode pemahaman terhadap suatu kepercayaan, sejarah atau kejadian dengan melihat suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan yang mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan, dan lingkungan dimana kepercayaan, sejarah atau kejadian itu muncul.
3.      Metode Sinkronis-Analistis
Suatu metode mempelajari islam yang memberikan kemampuan analisis teoritis yang sangat berguna bagi perkembangan keimananan dan mental intelek umat islam. Metode ini tidak semata-mata mengutamakan segi aplikatif praktis, tetapi juga mengutamakan telaah teoritis.
4.      Metode Problem Solving (hill al-musykilat)
Metode mempelajari islam yang mengajak pemeluknya untuk berlatih menghadapi berbagai masalah dari satu cabang ilmu oengetahuan dengan solusinya. Metode ini merupakan cara penguasaan ketrampilandari pada pengembangan mental-intelektual, sehingga memiliki kelemahan, yakni perkembangan pemikiran umat islam mungkin hanya terbatas pada kerangka yang sudah tetap dan akhirnya bersifat mekanistis.
5.      Metode Empiris
Suatu metode mempelajari islam yang memungkinkan umat islam mempelajari ajarannya melalui proses realisasi, dan internalisasi norma dan kaidah islam dengan satu proses aplikasi yang menimbulakan suatu interaksi sosial, kemudian secar deskriptif proses interaksi dapat dirumuskan dan suatu norma baru.
6.      Metode Deduktif (al-Manhaj al-Isthinbathiyah)
Suatu metode memahami islam dengan cara menyusun kaidah secar logis dan filosofis dan selanjutnya kaidah itu diaplikasikan untuk menuntukan masalah yang dihadapi. Metode ini dipakai untuk sarana meng-istinbatkan hukum-hukum syara’, dan kaidah-kaidah itu benar bersifat penentu dalam masalah-masalah furu’ tanpa menghiraukan sesuai tidaknya  dengan paham mazhabnya.
7.      Metode Induktif (al-Manhaj al-Istiqraiyah)
Suatu metode memahami islam dengan cara menyusun kaidah hokum untuk diterapkan kepada masalah-masalah furu’  yang disesuaikan denagn madzhabnya terlebih dahulu. Metode pengkajiannya dimulai dari masalah-masalah khusus, lalu dianalisis, kemudian disusun kaidah hokum dengan catatan setelah terlebih dahulu disesuaikan dengan paham mazhabnya.[9]
VI.   KESIMPULAN / PENUTUP
Studi Islam meliputi kajian agama islam dan tentang aspek-aspek keislaman masyarakat dan budaya muslim. Menurut pendapat para ulama objek Studi Islam meliputi islam sebagai doktrin dari Tuhan, substansi ajaran-ajaran islam dan interaksi sosial. Adapun tujuan Studi Islam adalah sebagai wawasan normative, kontekstual, aplikatif dan konstribusi konkret terhadap dinamika dan perkembangan yang ada, mendapatkan gambaran tentang agama islam secara luas, mendalam namun utuh, dan dinamis.
Ada beberapa pendekatan Studi Islam antara lain, pendekatan historis, filosofis,ilmiah doktriner dan normatif
Demikianlah  makalah ini kami buat. Tentunya masih banyak kesalahan yang terdapat dalam makalah ini untuk menuju yang lebih baik lagi, kritik dan saran kami butuhkan demi kesempurnaan makalah selanjutnya. Kami ucapkan terimakasih dan mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amien.
IV.             DAFTAR PUSTAKA
Naim Ngainun, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: Teras, 2009.
Syukur M.Amin dkk, Metodologi Studi Islam, Semarang: Gunung jati, 1998.
Nasution Khoirodin, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: Academia+ Tazzafa, 2009.
Nata Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2009
Muhaimin dkk, Studi Islam Dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan Jakarta: Kencana, cet III, 2012

Read More
Diposting oleh Ranum on Minggu, 02 Maret 2014

Entri Populer

Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Blog templatesFree Web Templates